DNS (Domain Name System)

Hallo, kali ini kita bahas lagi mengenai jaringan yaah  :shutup: . Yup melanjutkan postingan saya yang sebelumnya mengenai jaringan yang sebenarnya adalah tugas pada mata kuliah saya di kampus, hehe. Kali ini yang dibahas adalah tentang DNS.

Perlu diketahui sebelumnya, banyak orang yang salah paham mengenai kepanjangan DNS, DNS adalah singkatan dari Domain Name System, bukan Domain Name Server. Kebanyakan orang salah mengartikannya.

[quote style=”boxed”]WARNING !! MEMBACA ARTIKEL INI AKAN MENYEBABKAN KEPALA PUSING DAN BOSAN :army:[/quote]

Domain Name System (DNS) adalah distribute database system yang digunakan untuk pencarian nama komputer (name resolution) di jaringan yang mengunakan TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

DNS biasa digunakan pada aplikasi yang terhubung ke Internet seperti web browser atau e-mail, dimana DNS membantu memetakan host name sebuah komputer ke IP address.

Selain digunakan di Internet, DNS juga dapat di implementasikan ke private network atau intranet dimana DNS memiliki keunggulan seperti:

[ordered_list style=”decimal”]

  1. Mudah, DNS sangat mudah karena user tidak lagi direpotkan untuk mengingat IP address sebuah komputer cukup host name (nama Komputer).
  2. Konsisten, IP address sebuah komputer bisa berubah tapi host name tidak berubah.
  3. Simple, user hanya menggunakan satu nama domain untuk mencari baik di Internet maupun di Intranet.

[/ordered_list]

 Berikut adalah alur DNS bekerja :

Nah, secara teori mungkin sudah cukup jelas mengenai DNS, nah sekarang kita akan membahas penerapannya di dunia nyata. Disini ada beberapa contoh sebagai penggambaran cara kerja DNS.

Contoh 1: Contoh Umum Menggunakan Browser

[toggle title_open=”Close Me” title_closed=”Open Me” hide=”yes” border=”yes” style=”default” excerpt_length=”0″ read_more_text=”Read More” read_less_text=”Read Less” include_excerpt_html=”no”]Di dunia nyata, user tidak berhadapan langsung dengan DNS resolver – mereka berhadapan dengan program seperti web brower (Mozilla Firefox, Safari, Opera, Internet Explorer, Netscape, Konqueror dan lain-lain dan klien mail (Outlook Express, Mozilla Thunderbird dan lain-lain). Ketika user melakukan aktivitas yang meminta pencarian DNS (umumnya, nyaris semua aktivitas yang menggunakan Internet), program tersebut mengirimkan permintaan ke DNS Resolver yang ada di dalam sistem operasi.
DNS resolver akan selalu memiliki cache (lihat diatas) yang memiliki isi pencarian terakhir. Jika cache dapat memberikan jawaban kepada permintaan DNS, resolver akan menggunakan nilai yang ada di dalam cache kepada program yang memerlukan.

Kalau cache tidak memiliki jawabannya, resolver akan mengirimkan permintaan ke server DNS tertentu. Untuk kebanyakan pengguna di rumah, Internet Service Provider(ISP) yang menghubungkan komputer tersebut biasanya akan menyediakan server DNS: pengguna tersebut akan mendata alamat server secara manual atau menggunakan DHCP untuk melakukan pendataan tersebut. Jika administrator sistem telahmeng konfigurasi sistem untuk menggunakan server DNS mereka sendiri, DNS resolver umumnya akan mengacu ke name server mereka. Name server ini akan mengikuti proses yang disebutkan di Teori DNS, baik mereka menemukan jawabannya maupun tidak. Hasil pencarian akan diberikan kepada DNS resolver; diasumsikan telah ditemukan jawaban, resolver akan menyimpan hasilnya di cache untuk penggunaan berikutnya, dan memberikan hasilnya kepada software yang meminta pencarian DNS tersebut.

Sebagai bagian akhir dari kerumitan ini, beberapa aplikasi seperti web browser juga memiliki DNS cache mereka sendiri, tujuannya adalah untuk mengurangi penggunaan referensi DNS resolver, yang akan meningkatkan kesulitan untuk melakukan debug DNS, yang menimbulkan kerancuan data yang lebih akurat. Cache seperti ini umumnya memiliki masa yang singkat dalam hitungan 1 menit. (selain itu cache sendiri membuat kita lebih cepat mengakses halaman web yang pernah kita akses lho) :thumbup:[/toggle]

:exclamati Nah, untuk kasus realnya begini : Misalkan saja kita browsing di warnet, dan akan menghubungi www.google.com Rangkaian proses yang akan dijalankannya adalah sebagai berikut:

[ordered_list style=”decimal”]

  1. PC kita mengontak Server DNS lokal (biasanya terletak pada jaringan ISP) untuk menanyakan IP Address www.google.com
  2. Server DNS lokal akan melihat ke dalam cache-nya .
  3. Jika data itu terdapat di dalam cache server DNS server lokal, maka server tersebut akan memberikan alamat IP tersebut ke Browser. Jika tidak, maka server tersebut mengontak server DNS di atasnya (biasanya disebut Root DNS server) untuk mengetahui alamat IP dari DNS server yang mengelola domain www.google.com.
  4. Jika domain www.google.com benar-benar exist, maka Root DNS akan mendapatkan alamat IP server DNSwww.google.com,kemudian alamat dikirim ke server DNS lokal kita.
  5. Server DNS lokal akan mengontak Server DNS www.google.com untuk menanyakan alamat IP dari www.google.com , dan Server DNS www.google.com memberikan data alamat IP www.google.com
  6. Server DNS lokal memberitahu alamat IP untuk www.google.com kepada Browser/Client (PC kita).
  7. Kemudian kita menggunakan alamat itu untuk diisikan ke dalam IP Packet untuk menghubungi www.google.com .

[/ordered_list]

DNS adalah hasil pengembangan dari metode pencarian host name terhadap IP address di Internet. Pada DNS client (resolver) mengirimkan queries ke Name Server (DNS). Name Server akan menerima permintaan dan memetakan nama komputer ke IP address. Domain Name Space adalah pengelompokan secara hirarki yang terbagi atas root-level domains, top-level domains, second-level domains, dan host names.

Keberadaan DNS sangat penting dalam memberikan alamat untuk berinteraksi serta memberikan informasi di alam rimba maya (virtual).

DNS meliputi beberapa fungsi lainnya yaitu nama host dan alamat IP tidak berarti terhubung secara satu-banding-satu. Banyak nama host yang diwakili melalui alamat IP tunggal: gabungan dengan pengasuhan maya (virtual hosting), hal ini memungkinkan satu komputer untuk malayani beberapa situs web. Selain itu, sebuah nama host dapat mewakili beberapa alamat IP: ini akan membantuk toleransi kesalahan (fault tolerance dan penyebaran beban (load distribution), juga membantu suatu situs berpindah dari satu lokasi fisik ke lokasi fisik lainnya secara mudah.

Ada cukup banyak kegunaan DNS selain menerjemahkan nama ke alamat IP. Contoh:, agen pemindahan surat Mail transfer agents(MTA) menggunakan DNS untuk mencari tujuan pengiriman E-mail untuk alamat tertentu. Domain yang menginformasikan pemetaan exchange disediakan melalui rekod MX (MX record) yang meningkatkan lapisan tambahan untuk toleransi kesalahan dan penyebaran beban selain dari fungsi pemetaan nama ke alamat IP.

DNS menggunanakn TCP dan UDP di port komputer 53 untuk melayani permintaan DNS. Nyaris semua permintaan DNS berisi permintaan UDP tunggal dari klien yang ddikuti oleh jawaban UDP tunggal dari server. Umumnya TCP ikut terlibat hanya ketika ukuran data jawaban melebihi 512 byte, atau untuk pertukaaran zona DNS zone transfer.

Gimana ?? Pusing dan membosankan kan ??  :ngakaks  hahaha, tapi memang begitulah ilmu pengetahuan :fuck2:

Semoga Bermanfaat  :2thumbup